Pembagian Waktu Geologi

PEMBAGIAN WAKTU GEOLOGI

 

Diajukan untuk melengkapi nilai tugas kelompok Sejarah

Indonesia Lama tahun ajaran 2013/2014

 

oleh :

Abdul Jalil (1113015000041)

Sandra (1113015000044)

Wafa Khairina Mufida (1113015000045)

Amalia Husnayaini (1113015000043)

KATA PENGANTAR

 

 

 

Puji syukur kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya penulisan makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi nilai Sejarah Indonesia Lama semester genap tahun ajaran 2013/2014.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :

  1. Bapak Dr. Abdul Syukur yang telah memberikan pengetahuan dan membimbin penulis,
  2. Dan semua pihak yang membantu, baik secara langsung atau[un tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Pembagian Waktu Geologi, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu kami butuh kiritik dan saran bagi para pembaca agar makalah ini dapat disempurbakan kembali.

Jakarta, 26 Maret 2014

PENULIS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman

 

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………………….. ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………………………. 1

1.1 Latar belakang………………………………………………………………………………………………………. 1

1.2 Perumusan masalah ……………………………………………………………………………………………… 2

1.3 Sistematika penulisan ……………………………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAGIAN WAKTU GEOLOGI ……………………………………………………………………… 4

2.1 Pengertian Waktu Geologi ………………………………………………………………………………………. 4

2.2 Pembagian Waktu ……………………………………………………………………………. 5

2.3 Metode Pentarikhan …………………………………………………………………………. 7

BAB III KONSEP PRASEJARAH PAAKSARA ……………………………………………………………….. 11

3.1  Pengertian Zaman Praaksara …………………………………………………………………………………. 11

3.2 Pembagian Zaman …………………………………………………………… 14

3.3 Kedatangan nenek moyang Bangsa Indonesia ……………………………………………………………. 19

3.4 Sumber-sumber yang Digunakan untuk Mengetahui

Kehidupan Zaman Prasejarah ………………………………………………………………………………………… 21

 

BAB IV PALEOZOIKUM ………………………………………………………………………………………………. 22

4.1 Pengertian Paleozoikum ………………………………………………………………………………………….. 22

4.2 Periode Kambrium …………………………………………………………………………………………………. 23

4.3 Ordovisium ……………………………………………………………………………………………………………. 31

4.4 Silur ………………………………………………………………………………………………………………………. 32

4.5 Devon ……………………………………………………………………………………………………………………. 33

4.6 Karbon ………………………………………………………………………………………………………………….. 34

4.7 Perm ……………………………………………………………………………………………………………………… 35

BAB V MESOZOIKUM …………………………………………………………………………………………………. 38

5.1 Pengertian Mesozoikum …………………………………………………………………………………………… 38

5.2 JamanTrias (250-210 juta tahunlalu) ………………………………………………………………………… 39

5.3 Jaman Jura (210-140 juta tahunlalu) …………………………………………………………………………. 42

5.4 Zaman Kapur (140-65 juta tahunlalu) ………………………………………………………………………… 44

BAB VI SENOZOIKUM …………………………………………………………………………………………………… 46

6.1 Pengertian Senozoikum ……………………………………………………………………………………………… 46

6.2 Periode Paleogen ……………………………………………………………………………………………………….. 47

A. Paleosen ……………………………………………………………………………………………………………………… 48

B. Eosen ………………………………………………………………………………………………………………………….. 48

C. Oligosen ………………………………………………………………………………………………………………………. 49

D. Periode Neogen …………………………………………………………………………………………………………….. 50

E. Periode Miosen ……………………………………………………………………………………………………………… 51

F. Periode Pliosen ……………………………………………………………………………………………………………… 51

G. Periode Pleistosen …………………………………………………………………………………………………………. 52

H. Pleistosen …………………………………………………………………………………………………………………….. 53

BAB VI PENUTUP ……………………………………………………………………………………………………………… 58

6.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………………………………………………………. 58

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1     Latar Belakang

 

 

Dalam sejarah perkembangan terbentuknya permukaan bumi, waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa unit menurut peristiwa yang terjadi pada tiap periode, yaitu periode Paleozoikum, Mesozoikum, dan Senozoikum. Oleh karena itu periode-periode tersebut memiliki kurun waktu tersendiri.

Periode Paleozoikum adalah era geologi pertama dari tiga era pada eon Fanerozoikum, yang dimulai dari 542–251 juta tahun yang lalu.Pada zaman ini juga disebut sebagai zaman primer karena pada masa ini mulai ada tanda-tanda kehidupan dibumi. Setelah berakhirnya masa Paleozikum maka periode selanjutnya adalah Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung kurang lebih selama 180 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu. Senozoikum ini berlangsung selama 65,5 juta tahun sampai sekarang, setelah peristiwa kepunahan massal Kapur-Tersier pada akhir periode kapur yang menandai punahnya dinosaurus tanpa bulu dan berakhirnya era Mesozoikum.

Dalam hal tersebut masih banyak mahasiswa yang masih kurang memahami pembagian waktu geologi.

Hal ini melatarbelakangi penulis untuk mengangkat judul :

“PEMBAGIAN WAKTU GEOLOGI”

 

 

1.2 Perumusan Masalah

 

 

Setelah menetapkan latar belakang pemilihan judul diatas, maka selanjutnya dapat diidentifikasikan masalah penelitian. Rumusan masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

“ Periode apasajakh yang ada dalam pembagian waktu geologi tersebut?”

 

 

1.3 Sistematika Penulisan

 

 

Penulisan makalah ini terdiri dari 5 (lima) bab, pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman hasil. Urutan penulisan ini adalah sebagai berikut :

BAB I             PENDAHULUAN

            Penjabaran tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, dan sistematika penulisan.

BAB II            PEMBAGIAN WAKTU GEOLOGI

                                    Berisi tentang pembagian waktu menurut periodenya.

            BAB III          KONSEP SEJARAH PRAAKSARA

                                    Berisi tentang konsep prasejarah praaksara dan pembagian zaman.

            BAB IV          PALEOZOIKUM

                                    Berisi tentang pengertian, ciri-ciri dan periodenya.

            BAB V            MESOZOIKUM

                                    Berisi tentang pengertian, ciri-ciri dan periodenya.

            BAB VI          SENOZOIKUM

                                    Berisi tentang pengertian, ciri-ciri dan periodenya.

            BAB VII         PENUTUP

                                    Berisi tentang kesimpulan dan saran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAGIAN WAKTU GEOLOGI

 

 

2.1 Pengertian Waktu Geologi

 

 

Waktu geologi adalah skala waktu yang meliputi seluruh sejarah geologi bumi dari mulai terbentuknya hingga saat ini. Sebelum perkembangan dari skala waktu geologi pada abad ke-19, para ahli sejarah mengetahui bahwa bumi memiliki sejarah yang panjang, namun skala waktu yang digunakan sekarang dikembangkan sejak 200 tahun terakhir dan terus-menerus diperbaiki. Skala waktu geologi membantu para ilmuwan memahami sejarah bumi dalam bagian-bagian waktu yang teratur.

Sebelum adanya pentarikhan radiometri, yang mengukur kandungan unsur radioaktif dalam suatu objek untuk menentukan umurnya, para ilmuwan memperkirakan umur bumi berkisar dari 4,000 tahun hingga ratusan juta tahun. Saat ini, diketahui bahwa umur bumi adalah sekitar 4.6 milyar tahun.

 

 

Skala waktu geologi saat ini dibuat berdasarkan pada pentarikhan radiometri dan rekaman kehidupan purba yang terawetkan di dalam lapisan batuan. Sebagian besar batas pada skala waktu geologi sekarang berhubungan dengan periode kepunahan dan kemunculan spesies baru.

 

 

 

2.2 Pembagian Waktu

 

 

Skala waktu geologi yang ditetapkan oleh International Union of Geological Sciences (IUGS) pada tahun 2004 membagi sejarah bumi ke dalam beberapa interval waktu yang berbeda-beda panjangnya dan terukur dalam satuan tahun kalender. Interval terpanjang adalah Kurun. Setiap Kurun terbagi menjadi beberapa Masa. Setiap Masa terdiri dari beberapa Zaman, dan Zaman terbagi menjadi beberapa Kala.

Ada tiga Kurun: Arkaikum, Proterozoikum dan Fanerozoikum. Kurun Arkaikum adalah kurun pertama, dimulai sekitar 3.8 milyar hingga 2.5 milyar tahun yang lalu. Kurun sebelum Arkaikum, dikenal sebagai Pra-Arkaikum, ditandai oleh pembentukan planet bumi. Kurun Proterozoikum dimulai sekitar 2.5 milyar tahun yang lalu hingga 542 juta tahun yang lalu. Kurun Arkaikum dan Proterozoikum juga disebut Pra-Kambrium. Kemunculan besar-besaran dari hewan invertebrata menandai akhir dari Proterozoikum dan dimulainya Kurun Fanerozoikum.

Kurun Fanerozoikum dimulai sekitar 542 juta tahun yang lalu dan berlanjut hingga sekarang. Terbagi menjadi tiga Masa: Paleozoikum (542 – 251 juta tahun yang lalu), Mesozoikum (251 – 65 juta tahun yang lalu) dan Kenozoikum (65 juta tahun yang lalu hingga sekarang).

Masa Paleozoikum terbagi menjadi enam Zaman. Dari yang tertua hingga termuda adalah Kambrium (542 – 488 juta tahun yang lalu), Ordovisium (488 – 444  juta tahun yang lalu), Silurium (444 – 416 juta tahun yang lalu), Devonium (416 – 359 juta tahun yang lalu), Karbon (359 – 299 juta tahun yang lalu), dan Permium (299 – 251 juta tahun yang lalu). Masa Paleozoikum diawali dengan kemunculan banyak bentuk kehidupan yang berbeda-beda, yang terawetkan sebagai kumpulan fosil dalam sikuen batuan di seluruh dunia. Masa ini berakhir dengan kepunahan massal lebih dari 90 persen organisme pada akhir Zaman Permium. Penyebab kepunahan pada akhir Permium ini belum diketahui pasti hingga saat ini.

Masa Mesozoikum terbagi menjadi Zaman Trias (251 – 200 juta tahun yang lalu), Zaman Jura (200 – 145 juta tahun yang lalu), dan Zaman Kapur (145 – 65 juta tahun yang lalu). Masa Mesozoikum dimulai dengan kemunculan banyak jenis hewan baru, termasuk dinosaurus dan ammonite, atau cumi-cumi purba. Masa Mesozoikum berakhir dengan kepunahan massal yang memusnahkan sekitar 80 persen organisme saat itu. Kepunahan ini kemungkinan disebabkan oleh tabrakan asteroid ke bumi yang sekarang kawah bekas tabrakan ditemukan di sebelah utara Semenanjung Yucatan, Meksiko.

Masa Kenozoikum terbagi menjadi dua Zaman, Paleogen (65 – 23 juta tahun yang lalu) dan Neogen (mulai dari 23 juta tahun yang lalu hingga sekarang). Zaman Paleogen terdiri dari tiga Kala: Kala Paleosen (65 – 56 juta tahun yang lalu), Kala Eosen (56 – 34 juta tahun yang lalu) dan Oligosen (34 – 23 juta tahun yang lalu). Zaman Neogen terbagi menjadi empat Kala: Kala Miosen (23 – 5.3 juta tahun yang lalu), Pliosen (5.3 – 1.8 juta tahun yang lalu), Pleistosen (1.8 juta – 11,500 tahun yang lalu) dan Holosen (dimulai dari 11,500 tahun yang lalu hingga sekarang). Kala Holosen ditandai oleh penyusutan yang cepat dari benua es di Eropa dan Amerika Utara, kenaikan yang cepat dari muka air laut, perubahan iklim, dan ekspansi kehidupan manusia ke segala penjuru dunia.

 

 

 

2.3 Metode Pentarikhan

 

 

Ahli geologi dapat menentukan umur lapisan batuan dalam bentuk umur absolut atau umur relatif. Dalam penentuan umur relatif lapisan batuan, ilmuwan menggunakan tiga prinsip sederhana. Prinsip pertama adalah Hukum Superposisi, yang menyatakan bahwa pada perlapisan batuan yang tidak terganggu, lapisan batuan yang lebih muda akan berada di atas lapisan batuan yang lebih tua. Prinsip kedua adalah Hukum Hubungan Potong-memotong, yang menyatakan bahwa setiap kenampakan batuan atau struktur yang memotong dan mengganggu lapisan batuan selalu lebih muda daripada lapisan batuan yang dipotong tersebut.

Prinsip ketiga, yaitu suksesi fosil, berhubungan dengan fosil yang terekam di dalam batuan sedimen. Pemetaan mendalam di seluruh dunia menunjukkan bahwa batuan yang terbentuk pada interval waktu tertentu mengandung kombinasi fosil yang tertentu pula. Batuan Paleozoikum mengandung fosil trilobita dan graptolit, batuan Mesozoikum mengandung fosil sisa-sisa dinosaurus dan ammonite, batuan Kenozoikum mengandung fosil sisa-sisa tumbuhan bunga dan banyak fosil mamalia. Dengan menggunakan petunjuk kandungan fosil di dalam sikuen batuan, meskipun berbeda letak geografis, ahli paleontologi dapat menyimpulkan bahwa sikuen batuan yang mengandung jenis fosil yang sama kemungkinan juga memiliki umur yang sama. Ketiga metode ini digunakan untuk penentuan umur relatif pada batuan, namun tidak menunjukkan umur absolut batuan tersebut.

Ahli geologi juga memiliki beberapa metode untuk menentukan umur sebenarnya dari suatu lapisan batuan. Yang paling penting adalah metode pentarikhan radiometri, yang menggunakan sifat peluruhan unsur radioaktif dalam batuan untuk menentukan umurnya. Unsur radioaktif meluruh untuk membentuk isotop unsur (atom unsur yang memiliki massa yang berbeda namun memiliki sifat-sifat kimiawi yang sama). Waktu-paruh unsur adalah waktu yang diperlukan untuk meluruhkan separuh dari atom unsur tersebut. Unsur yang berbeda memiliki waktu-paruh yang berbeda pula.

Dua macam peluruhan radioaktif yang paling banyak digunakan oleh ahli geologi adalah peluruhan Karbon-14 menjadi Nitrogen-14 dan peluruhan Potasium-40 menjadi Argon-40. Karbon-14, atau radiokarbon, digunakan pada penentuan umur material organik yang umurnya kurang dari 50,000 tahun yang lalu. Ahli geologi mengukur banyaknya kandungan Karbon-14 dan Nitrogen-14 pada kayu, arang, kertas, fosil benih dan sisa serangga, cangkang, bahkan pada air yang mengandung karbon terlarut. Rasio Karbon-14 dan Nitrogen-14 menyediakan estimasi yang bagus untuk penentuan umur dari sampel tersebut.

Ahli geologi juga dapat menggunakan Potasium-Argon untuk menentukan umur batuan yang berkisar dari 100,000 tahun yang lalu hingga setua umur bumi itu sendiri. Rasio dari Potasium-40 menjadi Argon-40 menyediakan estimasi yang bagus untuk menentukan umur batuan selama batuan tersebut tidak terpanaskan oleh temperatur di atas 125°C (257°F). Panas akan menyebabkan Argon menguap dan membuat umur batuan akan tampak lebih tua daripada sebenarnya.

Beberapa teknik non-radiometri, seperti analisis varve, dendrokronologi dan paleomagnetisme, juga dapat digunakan untuk penentuan umur absolut. Varve adalah lapisan sedimen yang terendapkan setiap tahun pada danau glasial. Lapisan tebal dari sedimen berukuran kasar terendapkan selama musim semi oleh aliran air permukaan, dan lapisan sedimen halus yang lebih tipis terendapkan selama musim dingin, keduanya membentuk lapisan yang disebut varve. Para ahli kebumian akan mengekstrak inti sedimen dari danau glasial ini dan menghitung berapa banyak varve pada sedimen tersebut. setiap satu varve menunjukkan umur satu tahun.

Dendrokronologi adalah teknik yang menggunakan lingkaran tahunan pada batang pohon pada iklim yang hangat untuk menentukan umur batang pohon tersebut. beberapa pohon dapat hidup hingga ribuan tahun, sehingga teknik ini berguna untuk menentukan umur pohon yang berkisar antara 3,000 hingga 4,000 tahun yang lalu. Namum, teknik ini juga digunakan pada fosil pohon dari Kala Holosen.

Paleomagnetisme melibatkan pengukuran sudut molekul magnetik pada batuan. Ketika lava masih panas, mineral magnetik di dalamnya berorientasi kepada medan magnetik bumi. Ketika lava mendingin hingga pada titik tertentu, mineral magnetik ini akan tekunci ditempatnya dalam batuan. Karena medan magnetik bumi selalu berubah orientasinya beberapa waktu sepanjang sejarah bumi, orientasi magnetik dari batuan yang membeku selama waktu yang berbeda juga akan berbeda. Ilmuwan mengetahui waktu pembalikan magnetik, sehingga orientasi magnetik dari sampel batuan dapat menunjukkan estimasi umur batuan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KONSEP PRASEJARAH PAAKSARA

 

 

 

3.1 Pengertian Zaman Praaksara

 

 

Zaman praaksara sering juga disebut zaman prasejarah, yaitu bisa diartikan sebagai zaman di mana manusia belum mengenal tulisan. Praaksara atau prasejarah disebut juga nirleka, yaitu zaman tidak ada tulisan. Zaman praaksara dimulai sejak adanya manusia sampai manusia mengenal tulisan. Jadi, jika manusia sudah mengenal tulisan, berarti manusia mulai menginggalkan zaman praaksara, dan memasuki zaman sejarah. Sumber sejarah yang bisa digunakan untuk mengetahui kehidupan zaman praaksara atau prasejarah di antaranya fosil dan artefak.

Batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir sekitar tahun 4000 SM masyarakatnya sudah mengenal tulisan, sehingga pada saat itu, bangsa Mesir sudah memasuki zaman sejarah. Zaman prasejarah di Indonesia diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5; dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur baru memasuki era sejarah.

Karena tidak terdapat peninggalan catatan tertulis dari zaman prasejarah, keterangan mengenai zaman ini diperoleh melalui bidang-bidang seperti paleontologi, astronomi, biologi, geologi, antropologi, arkeologi. Dalam artian bahwa bukti-bukti prasejarah hanya didapat dari barang-barang dan tulang-tulang di daerah penggalian situs sejarahAda dua cara untuk mempelajari peninggalan zaman purba, yaitu secara stratigrafi dan tipologi. Cara stratigrafi, yaitu cara mempelajari peninggalan purba berdasarkan letaknya di dalam lapisan tanah. Cara tipologi, yaitu cara mempelajari peninggalan purba dengan mengelompokkan benda-benda purbakala ke dalam kelompok yang sejenis.

Masa berlangsungnya zaman praaksara atau prasejarah untuk tiap-tiap bangsa tidak sama. Adapun bangsa Indonesia meninggalkan zaman prasejarah dan memasuki zaman sejarah, yaitu pada tahun 400 Masehi. Hal itu dapat diketahui dari tugu batu tertulis (yupa) yang terdapat di Muarakaman, Kalimantan Timur. Yupa adalah prasasti yang berbentuk seperti menhir (batu peringatan hasil peninggalan megalitikum) sedangkan prasasti adalah catatan peristiwa yang dianggap penting dan dipahatkan pada bahan yang tidak mudah pecah, biasanya berupa batu atau logam, juga disebut batu tertulis. Menurut penelitian para ahli, prasasti yang tertua ditemukan di Indonesia bertuliskan huruf pallawa dan bahasa sanskerta.

Cara menentukan umur benda pra sejarah :

  • topografi : melihat bentuk benda
  • Stratigrafi : melihat letak lapisan tanah
  • Kimiawi : melihat unsur kimia dalam benda

Manusia Pra sejarah di Indonesia :

  • Meganthropus Paleojavanicus (ditemukan di Sangiran oleh Von Koenigswald)
  • Pithecanthropus erectus (ditemukan di Trinil oleh E. Dubois)
  • Pithecanthropus Mojokertensis / robustus (ditemukan di Mojokerto oleh Von Koenigswald dan Duyfjes)
  • Homosoloensis (ditemukan di Lembah Bengawan Solo oleh Von Koenigswald ,Ter Haar dan Oppenoorth,)
  • Homo Wajakensis (ditemukan di Wajak oleh B.D Van Rietschoten dan E. Dubois)

Pembabakan zaman pra sejarah berdasar geologi :

  • Arkaekum ( zaman tertua )
  • Palaeozoikum ( zaman hidup tua )
  • Mesozoikum, ( zaman hidup tengah )
  • Neozoikum ( zaman hidup baru )
  • TertieQuarter ( pleistocen dan holocen )

Berdasar hasil budaya :

  • Palaeolithikum ( batu tua )
  • Mesolithikum ( batu tengah )
  • Neolithikum ( batu muda )
  • Megalithikum ( batu besar )
  • Zaman logam ( perunggu dan besi ) masuk dalam masa perundagian / pertukangan.

 

 

 

 

 

 

3.2 Pembagian Zaman

 

 

Secara umum, masa prasejarah Indonesia ditinjau dari dua aspek, bedasarkan bahan untuk membuat alat-alatnya (terbagi menjadi Zaman Batu & Zaman Besi), & bedasarkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakatnya (terbagi menjadi Masa Berburu & Mengumpulkan Makanan, Masa Bercocok Tanam, & Masa Perundagian)

A.    Zaman Batu

Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini diperiodisasi lagi menjadi 4 zaman, antara lain:

1.      Zaman Batu Tua (Masa Berburu & Mengumpulkan Makanan Tingkat Awal)

Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:

  • Kebudayaan Pacitan (berhubungan dengan kapak genggam dengan varian-variannya seperti kapak perimbas & kapak penetak
  • Kebudayaan Ngandong (berhubungan dengan Flakes & peralatan dari tulang)

Bedasarkan kebudayaan yang ditemukan, maka dapat disimpulkan ciri-ciri kehidupan pada Palaeolithikum antara lain:

  • Masyarakatnya belum memiliki rasa estetika (disimpulkan dari kapak genggam yang bentuknya tidak beraturan & bertekstur kasar)
  • Belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang dimiliki belum dapat digunakan untuk menggemburkan tanah).
  • Memperoleh makanan dengan cara berburu (hewan) dan mengumpulkan makanan (buah-buahan & umbi-umbian).
  • Hidup nomaden (jika sumber makanan yang ada di daerah tempat tinggal habis, maka masyarakatnya harus pindah ke tempat baru yang memiliki sumber makanan).
  • Hidup dekat sumber air (mencukupi kebutuhan minum & karena di dekat sumber air ada banyak hewan & tumbuhan yang bisa dimakan).
  • Hidup berkelompok (untuk melindungi diri dari serangan hewan buas).
  • Sudah mengenal api (bedasarkan studi perbandingan dengan Zaman Palaeolithikum di China, dimana ditemukan fosil kayu yang ujungnya bekas terbakar di dalam sebuah gua).
2.      Zaman Batu Tengah (Masa Berburu & Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut)

Terdapat dua kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:

  • Kebudayaan Kjokkenmoddinger

Kjokkenmodinger, istilah dari bahasa Denmark, kjokken yang berarti dapur & moddinger yang berarti sampah (kjokkenmoddinger = sampah dapur). Dalam kaitannya dengan budaya manusia, kjokkenmoddinger merupakan timbunan kulit siput & kerang yang menggunung di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh sampai Medan. Di antara timbunan kulit siput & kerang tersebut ditemukan juga perkakas sejenis kapak genggam yaitu kapak Sumatra/Pebble & batu pipisan.

  • Kebudayaan Abris Sous Roche

Abris sous roche, yang berarti gua-gua yang pernah dijadikan tempat tinggal, berupa gua-gua yang diduga pernah dihuni oleh manusia. Dugaan ini muncul dari perkakas seperti ujung panah, flakke, batu penggilingan, alat dari tulang & tanduk rusa; yang tertinggal di dalam gua.

Bedasarkan kebudayaan yang ditemukan, maka dapat disimpulkan ciri-ciri kehidupan pada zaman Mesolithikum antara lain:

  • Sudah mengenal rasa estetika (dilihat dari peralatannya seperti kapak Sumatra, yang bentuknya sudah lebih beraturan dengan tekstur yang lebih halus dibandingkan kapak gengggam pada Zaman Paleolithikum)
  • Masih belum dapat bercocok tanam (karena peralatan yang ada pada zaman itu masih belum bisa digunakan untuk menggemburkan tanah)
  • Gundukan Kjokkenmoddinger yang dapat mencapai tinggi tujuh meter dengan diameter tiga puluh meter ini tentu terbentuk dalam waktu lama, sehingga disimpulkan bahwa manusia pada zaman itu mulai tingggal menetap (untuk sementara waktu, ketika makanan habis, maka harus berpindah tempat, seperti pada zaman Palaeolithikum) di tepi pantai.
  • Peralatan yang ditemukan dari Abris Sous Roche memberi informasi bahwa manusia juga menjadikan gua sebagai tempat tinggal.
3.      Zaman Batu Muda (Masa Bercocok Tanam)

Ciri utama pada zaman batu Muda (neolithikum) adalah alat-alat batu buatan manusia sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Alat-alat yang dihasilkan antara lain:

  • Kapak persegi, misalnya beliung, pacul, dan torah yang banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,
  • Kapak batu (kapak persegi berleher) dari Minahasa,
  • Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa,
  • Pakaian dari kulit kayu
  • Tembikar (periuk belaga) ditemukan di Sumatera, Jawa, Melolo (Sunda)

Manusia pendukung Neolithikum adalah Austronesia (Austria), Austro-Asia (Khamer-Indocina)

Kebudayaan Megalith

Antara zaman neolitikum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalith, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalith justru pada zaman logam. Hasil kebudayaan Megalith, antara lain:

  • Menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang.
  • Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang
  • Sarchopagus/keranda atau peti mati (berbentuk lesung bertutup)
  • Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat
  • Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup
  • Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka

4.      Zaman Logam (Masa Perundagian)

Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah. Zaman logam di Indonesia dibagi atas:

B.                 Zaman Perunggu

Pada zaman Perunggu/disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tongkin China (pusat kebudayaan ini) manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras. Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain:

  • Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irian
  • Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
  • Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatera.
  • Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat)

 

C.      Zaman Besi

 

 

Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.

Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain:

  • Mata Kapak bertungkai kayu
  • Mata Pisau
  • Mata Sabit
  • Mata Pedang
  • Cangkul

Alat-alat tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan Punung (Jawa Timur).

 

 

3.3 Kedatangan nenek moyang Bangsa Indonesia

 

 

Bangsa Melanesia atau disebut juga dengan Papua Melanosoide merupakan gelombang pertama yang berimigrasi ke Indonesia. Bangsa Melayu yang merupakan rumpun bangsa Austronesia yang termasuk golongan Ras Mongoloid. Bangsa ini melakukan perpindahan ke Indonesia melalui dua gelombang yaitu: Gelombang pertama tahun 2000 SM, menyebar dari daratan Asia ke Semenanjung Melayu, Indonesia, Philipina dan Formosa serta Kepulauan Pasifik sampai Madagaskar yang disebut dengan Proto Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia melalui dua jalur yaitu Barat dan Timur, dan membawa kebudayaan Neolithikum (Batu Muda) Gelombang kedua tahun 500 SM, disebut dengan bangsa Deutro Melayu. membawa kebudayaan logam (perunggu)

Untuk mempelajari kehidupan manusia prasejarah di Indonesia, diperlukan bantuan beberapa cabang ilmu pengetahuan, antara lain:

  • Paleontologi, ilmu yg mempelajari tentang fosil.
  • Paleontropologo, ilmu yg mempelajari asal usul dan evolusi manusia dengan mempergunakan fosil manusia sebagai bahan penemuan.
  • Geologi, ilmu yg mempelajari ciri2 lapisan bumi serta perubahan perubahannya.
  • Antropologi, yg mempelajari tentang peradaban manusia dari bentuk yg paling sederhana sampai ketingkat yg lebih maju.
  • Arkeologi, ilmu yg mempelajari peninggalan2 sejarah dan purba kala untuk menyusun kembali kehidupan manusia dan masyarakat masa lampau.
  • Geografi, ilmu yg mempelajari keberadaan bumi sebagai tempat berpijaknya manusia di dalam menjalani kehidupannya, dan lain lain.

Zaman prasejarah tidak meninggalkan bukti tertulis, tetapi hanya meninggalkan benda benda hasil kebudayaan. Umur peninggalan budaya itu dapat diketahui melalui cara:

  • Tipologi, merupakan cara penentuan usia benda peninggalan budaya berdasarkan bentuk tipe dari peninggalan itu. Semakin sederhana bentuk peninggalan budaya manusia itu. Maka usianya semakin tua.
  • Stratigrafi, merupakan cara penentuan usia benda peninggalan budaya berdasarkan lapisan tanah tempat benda itu di temukan, semakin kebawah lapisan tanah tempat penemuan benda peninggalan budaya manusia, maka semakin tua usianya.
  • Kimiawi, merupakan cara menentukan usia benda peninggalan budaya manusia berdasarkan unsur2 kimia yg di kandung oleh benda tersebut

 

 

 

 

 

 

3.4  Sumber-sumber yang Digunakan untuk Mengetahui Kehidupan Zaman Prasejarah

 

 

Sumber/peninggalan yang di gunakan untuk mengetahui kehidupan zaman prasejarah, yang utama fosil dan arterak.

  • Fosil

Fosil adalah tulang belulan manusia, hewan, dan tumbuhan yg telah membatu. Fosil yg dapat yg dapat memberi petunjuk kehidupan manusia purba disebut fosil pandu.

  • Arterak

Arterak adalah alat alat atau perkakas yg dipakai oleh manusia purba untuk menunjang kehidupannya. Contoh: kapak persegi, kapak lonjong, kapak corong, dan lain lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PALEOZOIKUM

 

 

 

4.1 Pengertian Paleozoikum

 

 

Paleozoikum berasal dari bahasa Yunani, yaitu palaio yang berarti tua dan zoion yang berarti hewan, maka zaman Paleozoikum bisa diartikan sebagai zaman kehidupan purba. Paleozoikum  adalah era geologi pertama dari tiga era pada eon Fanerozoikum, yang dimulai dari 542–251 juta tahun yang lalu.Pada zaman ini juga disebut sebagai zaman primer karena pada masa ini mulai ada tanda-tanda kehidupan dibumi. Benua-benua pertama kali stabil pada era ini.

Pada era ini keadaan iklim bumi masih belum setabil, masih berubah-ubah. Curah hujan dibumi pada kala itu masih sangat tinggi.Pada saat itu suhu bumi sudah semakin dingin, kehidupan perlahan-lahan berevolusi.Makhluk hidup seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan mulai ada. Hewan yang pertama kali ada ialah hewan kecil yang tidak bertulang punggung, yaitu hewan sejenis ikan, dan jenis ganggang atau rumput-rumputan.

Pada masa itu, terjadi radiasi adaptif yang membentuk banyak spesies baru, namun juga terjadi kepunahan massal. Ledakan evolusi ini sering kali disebabkan oleh perubahan mendadak pada lingkungan yang terjadi akibat bencana alam seperti aktivitas gunung berapi, tumbukan meteor ataupun perubahan iklim. Keberadaan hewan dan tumbuhan di bumi pada zaman itu diketahui dari sisa-sisa yang telah membatu yang disebut fosil. Fosil-fosil tersebut pada umumnya ditemukan di batu karang.

Beberapa kejadian penting yang terjadi dalam kurun waktu tersebut adalah tiga kepunahan masa utama. Kepunahan adalah total hilangnya seluruh anggota spesies atau kelompok takson yang lebih tinggi. Kepunahan massa adalah kepunahan dalam jumlah besar yang di alami spesies atau kolompok takson lebih tinggi yang tejadi dalam kurun waktu hanya beberapa juta tahun.

Dari penjelasan diatas zaman Paleozoikum memiliki ciri sebagai berikut :

  1. Mulai ada tanda-tanda kehidupan berupa mikroorganisme, hewan kecil tanpa bertulang belakang, jenis ikan, dan jenis ganggang atau rerumputan.
  2. Sering disebut zaman primer ( pertama ).
  3. Jenis ikan, amfibi, dan reptile mulai ada, dan
  4. Keadaan bumi masih belum stabil.
  5. Iklim masih belum stabil dan berubah-ubah.
  6. Curah hujan sangat besar.
  7. Berlangsung sekitar 340 juta tahun yang lalu.

Sepanjang era ini, banyak kelompok kehidupan modern muncul. Era ini dibagi menjadi enam periodeberturut-turut, dari yang paling tua Kambrium, Ordovisium, Silur, Devon, Karbon, dan Perm.

 

 

4.2 Periode Kambrium

 

 

Kambrium dalam bahasa Inggris : Cambrian adalah periode pada skala waktu geologi yang dimulai pada sekitar 542 ± 1,0 jtl (juta tahun lalu) di akhir eonProterozoikumdan berakhir pada sekitar 488,3 ± 1,7 jtl dengan dimulainya periode Ordovisium. Periode ini merupakan periode pertama era Paleozoikumdari eon Fanerozoikum. Nama “Kambrium” berasal dari Cambria, nama klasik untuk Wales, wilayah asal batuan dari periode ini pertama kali dipelajari.

Ciri khas periode ini adalah fenomena Letusan Kambrium, di mana terjadi kemunculan mendadak banyak filum yang tidak ada di lapisan sebelumnya, dan filum-filum ini meliputi makhluk yang sederhana sampai lebih rumit, yang dahulunya diduga baru akan muncul berjuta-juta tahun kemudian.

Periode Kambrium menandai titik penting dalam sejarah kehidupan di bumi ini. Ketika sebagian besar kelompok hewan utama pertama kali muncul dalam catatan fosil, hal tersebut biasanya disebut sebagai “Ledakan Kambrium”, karena waktu yang relatif singkat di mana keragaman bentuk-bentuk ini muncul. Ada pendapat bahwa batu-batu Kambrium ditunjukkan adanya fosil hewan tertua pertama, sekarang ini dapat ditemukan di awal lapisan Vendian.

Sebagian besar kelompok hewan muncul untuk pertama kalinya dalam catatan fosil sekitar 545 juta tahun yang lalu pada skala geologi dalam waktu yang relatif singkat, waktu tersebut yang dikenal sebagai ledakan Kambrium. Penjelasan Darwin tersebut menjelaskan bahwa ledakan tetap sebagai sumber utama banyak perdebatan di paleobiology. Sementara beberapa ilmuwan percaya bahwa memang ada ledakan keanekaragaman (yang disebut teori punctuated equilibrium diuraikan oleh Nils Eldredge dan Stephen J. Gould-Models dalam Paleobiology, 1972), yang lain percaya bahwa percepatan evolusi tidak mungkin, mereka menempatkan bahwa ada suatu periode perkembangan evolusi semua kelompok hewan, bukti-bukti yang hilang dalam semua Prakambrium tetapi tidak ada catatan fosil. Molekul teknologi modern (genomika), melalui asam nukleat dan membandingkan sekuens asam amino yang hidup di spesies, yang memungkinkan identifikasi komponen-komponen genetik oleh evolusi, dari masa evolusi dapat disimpulkan dengan cabang pohon kehidupan.

Teori Ledakan Kambrium menyatakan bahwa, mulai sekitar 545 juta tahun yang lalu, sebuah ledakan keanekaragaman menyebabkan munculnya lebih dari periode yang relatif singkat 5 juta untuk 10 juta tahun dari sejumlah besar kompleks, multi-organisme bersel. Selain itu, ledakan ini menyebabkan sebagian besar kelompok hewan utama yang kita kenal sekarang, yaitu, berdasarkan Filum. Ledakan Kambrium adalah hasil dari perubahan dalam faktor-faktor lingkungan yang menyebabkan perubahan dalam tekanan selektif pada gilirannya mengarah pada diversifikasi adaptif pada skala yang luas. Pada awal Kambrium, superbenua besar Gondwana, yang terdiri dari semua tanah di bumi, mulai berantakan ke daratan yang lebih kecil.

Ledakan ini mungkin merupakan peristiwa tunggal paling mencolok didokumentasikan oleh catatan fosil. Dalam arti sempit, ledakan mengacu pada penampilan geologis dari fosil yang tiba-tiba mewakili semua kecuali dua dari hidup [hewan] filum yang tahan lama (mudah fossilizable) kerangka . Salah satu dari dua filum adalah Porifera (spons), yang hadir dalam catatan fosil pada waktu sebelumnya. Yang lain adalah Bryozoa, sebuah filum yang berisi beberapa kelompok bertubuh lunak dan mungkin juga sudah ada tetapi belum skeletonized. Sejumlah organisme teka-teki hubungan yang tak jelas juga muncul ketika ledakan, memperkaya fauna di awal Kambrium. Precision dating menunjukkan bahwa ledakan dimulai pada 530 Ma (juta tahun lalu) dan berakhir sebelum 520 M.

Penting untuk diingat bahwa sejarah geologi mengandung sejumlah periode evolusi yang lambat diselingi oleh periode evolusi yang cepat, oleh Steven J. Gould disebut teori punctuated equilibrium. Tingkat evolusi umumnya tergantung pada tingkat seleksi, yang pada gilirannya tergantung pada tingkat perubahan lingkungan. Tingkat mutasi cenderung lambat dan mantap, dan tidak adanya perubahan lingkungan, sedikit demi sedikit terakumulasi dalam suatu populasi. Ini adalah tekanan gulma yang selektif bermutasi yang merugikan atau netral untuk bertahan hidup, dan mempertahankan dan melipatgandakan mutasi yang bermanfaat dalam suatu populasi. Untuk populasi terisolasi di lingkungan baru, pilihan cepat dapat menyebabkan spesiasi, dan dalam Kambrium Bawah, secara radikal bentuk-bentuk baru yang sekarang kita kelompok dalam Filum zaman modern.

Sebagai daerah tipe dari Sistem Kambrium ini terdapat di daerah Wales, Sistem Kambrium ini merupakan sistem yang tertua yang mengandung banyak fosil terletak tidak selaras di atas Sistem Pra-Kambrium yang kebanyakan terdiri dari batuan metamorf.

A. Sifat Batuan Kambrium

Sistem Kambrium terbentuk baik dalam geosinklin maupun dalam cekungan Kraton, dengan demikian maka keseluruhannya berkembang sebagai batuan sedimen. Yang khas untuk sistem ini dijumpainya fosil yang melimpah di mana hal ini tidak pernah dijumpai pada sistem yang lebih tua yaitu Sistem Pra-Kambrium.

B. Umur Batuan Kambrium

Batuan Kambrium terletak tidak selaras di atas batuan Pra-Kambrium yang berumur 4.500 juta tahun. Sifat fisik yang nyata ialah bahwa batuan Pra-Kambrium sudah terlipat dan termetamorfkan sangat kuat sedang batuan Kambrium walaupun sudah mengalami perlipatan tetapi belum mengalami metamorfosa. Dengan demikian maka batuan Kambrium terbentuk jauh sesudah selesai pembentukan batuan Pra-Kambrium. Umur batuan Kambrium lebih kurang 600-500 juta tahun.

Kesan Kehidupan Selama Kambrium. Pada endapan Kambrium dijumpai banyak fosil, sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kehidupan selama Kambrium. Kehidupan pada saat itu masih terbatas pada lingkungan air, terutama kehidupan  laut. Di antara jenis kehidupan yang memegang peranan penting antara lain

 

  1. ARCHEOCYATHA

Golongan ini termasuk Filum Porifera, hidup dalam lingkungan laut. Meskipun hidupnya tidak membentuk koloni yang cukup besar, tetapi merupakan pembentuk endapan gamping yang cukup tebal teutama khas untuk Zaman Kambrium.

Batu gamping yang mengandung fosil dari jenis ini banyak dijumpai diCalifornia, NewYork, Quebeq, Labrador, NewFoundland, Siberia,Tiongkok, Sardinia, Spanyol, Australia, dan Antartika.

Di Australia binatang ini pada Zaman Kambrium telah membentuk terumbupenghalang sebanyak 600 meter dengan tebal 70 m, yang letaknya sejajar dengan pantai timur Australia sekarang.

  1. TRILOBITA

Golongan ini termasuk Filum Arthropoda dan merupakan fosil penunjuk terpenting untuk Kambrium. Perkembangannya sangat khas sehingga didasarkan atas fosil ini Kambrium dibagi menjadi 3 kala yaitu Kambrium Bawah, Kambrium Tengah, dan Kambrium Atas.

Kambrium Bawah, kehidupan masih bersifat kosmopolit  artinya binatang tersebut masih terdapat dimana-mana di dunia, sedang Trilobita diwakili oleh Olenellus thompsoni, Bathynotus holopyga, Eudiscus speciosus.

Kambrium Tegah, dicirikan oleh Bathyriscus rotundatus, Albertella helena, Agnostus interstrictus, Paradoxides harlani, Olenoides curticei. Di samping itu pada Kambrium Tengah sudah mulai dikenal adanya daerah fauna yaitu daerah yang dicirikan oleh kumpulan kehidupan tertentu. Daerah fauna tersebut ialah daerah fauna Atlantik dengan Paradoxides sebagai penciri dan daerah fauna Pasifik dengan Olenoides, Bathyuriscus, dan Dorypyge sebagai penciri.

Kambrium Atas, dicirikan oleh Dikelocephalus minesotensis, Tricrepicephalus texanus, sedang Olenus sebagai penciri daerah fauna Atlantik dan Dikelocephalus sebagai penciri daerah fauna Pasifik.

Brachiopoda dan Mollusca sejak masa Kambrium, kedua jenis fauna tersebut menjadi pemegang peranan penting dan terus berkembang hingga sekarang. Kedua golongan binatang tersebut khas untuk daerah tropis. Di samping itu golongan Cgaetopoda antara lain Ottia prolifica, Canadia spinosa, Canadia setigera banyak dijumpai pada Kambrium Tengah.

Pelamparan Batuan Kambrium

Batuan Kambrium terbentuk baik dalam geosinklin maupun Kratonataupun dalam epikontinen. Dengan demikian maka endapan Kambrium keseluruhannya berkembang sebagai batuan sedimen. Batuan Kambrium antara lain dijumpai di Daerah Geosinkin di Eropa, meliputi :

Geosinklin Caledonia dengan pelamparan mulai dari Laut Es Utara sepanjang Norwegia, pulau-pulau Hebrida, Skotlandia, dan Wales.Geosinklin Tethys, yang merupakan terusan dari geosinklin Caledonia yang melalui Bretagne dan Normandia. Geosinklin Mediterania, yang merupakan terusan dari geosinklin Tethys dengan batas selatan diperkirakan di utara Sahara. Melampar melalui Perancis Tengah, Jerman Tengah hingga Silesia dan Bohemia. Di samping itu di daerah Ardena, Belgia, Maroko, Spanyol, dan Sardinia juga telah ditemui adanya endapan dari geosinklin tersebut. Di tempat-tempat tersebut endapan Kambrium yang rata-rata mencapai tebal tidak kurang dari 4.000 meter.

Kambrium Bawah tersusun dari kwarsit, graywacke, dan sabak yang tidak mengandung fosil yang mungkin sebagian diendapkan dalam lingkungan darat, sedang di bagian atas dijumpai fosil Obolella yang termasuk dalam Filum Brachiopoda. Kambrium tengah terdiri dari sabak yang semula merupakan endapan laut. Kambrium Atas terdiri dari batu pasir yang mengandung fosil Lingulayang termasuk Filum Brachiopoda.

Di Norwegia terutama terdiri dari batuan metamorf antara lain sabak yang dikenal sebagai sabak Roros, makin ke timur metamorfosenya makin berkurang sehingga akhrinya merupakan batuan yang berfosil. Bagian bawah bersambung dengan fillit yang termasuk pada Pra-Kambrium.

Di Bohemia endapan Kambrium berkembang dengan baik. Kambrium bawah merupakan endapan darat dengan konglomerat polimik, graywacke, dan kwarsit. Sedangkan Kambrium Tengah dan Kambrium Atas merupakan endapan laut dengan fosil yang terawetkan sangat baik. Di samping itu pada Kambrium Atas banyak kegiatan volkanisme. Di Geosinklin Mediterania bagian selatan terdapat banyak kegiatan volkanisme dengan lelehan yang bersifat basa, di samping itu berkembang pula batu gamping Archeocyathus.

Daerah geosinklin di Asia; Perisai Fenoskandia-Rusia di sebelah timur dibatasi oleh Geosinklin Ural yang melampar dari Geosinklin Mediterania ke utara. Geosinklin Mediterania ini bersambung dengan Geosinklin Paleokataisia yang melampar melalui Tibet sepanjang pantai timur Tiongkok hingga Peking. Pada geosinklin ini terjadi endapan batugamping Archeocyathus yang tebalnya sampai 1.000 meter.

Di India di daerah Punjab dijumpai endapan Kambrium yang terlipat dan tersesarkan hingga menjadi lipatan yang tertutup. Di Utara Pegunungan Range di lembah Sungai Spiti terdapat pula lapisan endapan Kambrium yang merupakan endapan laut.

Di daerah geosinklin di Amerika; sepanjang tepi timur Amerika Utara dan Kanada melampar Geosinklin Appalachia yang terpisahkan oleh lengkungan pulau-pulau dari Samudra Atlantik. Dalam geosinklin ini diendapkan sedimen klastik yang tebalnya mencapai 4.000 m. Sepanjang tepi barat Amerika Utara melampar Geosinklin Rocky Mountains atau Geosinklin Cordillera dengan endapan batugampingArcheocyathus sebagai ciri utama, sedangkan di daerah Pegunungan Rocky Kanada ditemukan serpih, lemoung yang kaya akan fosil fauna.

Suatu ciri yang khas untuk endapan Kambrium di Amerika adalah tidak dijumpainya batuan volkanik, seperti halnya endapan Kambrium di Eropa yang selalu diikuti dengan endapan volkanik.

Pembagian Kambrium menjadi kala-kala di Amerika Utara sebagai berikut :

  1. Kambrium Bawah = Georgian
  2. Kambrium Tengah = Acadian
  3. Kambrium Atas = Postdamian

Batuan Kambrium di Indonesia

Di Indonesia sampai sekarang belum ditemukan endapan yang berumur Kambrium. Apabila ada kemungkinan akan dijumpai di daerah yang berdekatan dengan tempat terdapat endapan Pra-Kambrium, kemungkinan di daerah Irian.

Kelimpahan makhluk hidup yang di temukan pada peride ini kemungkinan berhubungan dengan evolusi skeleton (rangka). Hal tersebut di tunjukan oleh fosil hewan ditemukan yang mempunyai skleton pelindung di sebelah luar. Dalam era Palezoik mulai terjadi penguasaan daratan oleh makhluk hidup. Fosil yang umum dijumpai dengan penyebaran yang luas adalah Alga, Cacing, Sepon, Koral, Moluska, Ekinodermata, Brakipoda dan Artropoda. Fosil penunjuk untuk zaman ini adalah Trilobita (kelompok Artropoda yang kini telah punah).

  1. Invertebrata
    Beberapa jenis invertebrate yang lebih dulu muncul di daratan di bandingkan yang lain adalah laba-laba, sentipoda, dan milipoda. Serangga masuk kedalam catatan fosil pada periode Karboniferus. Evolusi sayap ke arah yang lebuh baik memungkinkan serangga untuk berkembang menjadi kolompok makhluk hidup yang paling beragam dan melimpah hingga saat ini.
  2. Vertebrata
    Moyang Vertebrata tercatat pada awal periode Ordovisia yang di tandai dengan evolusi ikan. Evolusi pada ikan di mulai dengan ikan tanpa rahang, kemudian berkembang menjadi ikan berahang. Ikan bertulang rawan muncul pada periode Denovia dan periode tersebut di kenal sebagai zaman ikan.
  3. Tumbuhan
    Alga yang semula hidup di laut mulai berpindah ke perairan dangkal dan akhirnya menginvasi daratan yng lembap. Bentuk kehidupan akar tumbuhan dan jamur di daratan membentuk mikoriza. Adanya mikoriza memungkinkan tumbuhan dapat tumbuh pada batuan. Berdasarkan catatan fosil, tumbuhan berpembuluh di perkirakan telah ada pada periode Silurian

 

 

4.3 Ordovisium

 

 

Ordovisium adalah suatu periode pada era Paleozoikum yang berlangsung antara 488,3 ± 1,7 hingga 443,7 ± 1,5 juta tahun lalu. Periode ini melanjutkan periode Kambrium dan diikuti oleh periode Silur. Periode yang mendapat namanya dari salah satu suku di Wales, Ordovices, ini didefinisikan oleh Charles Lapworth pada tahun 1879 untuk menyelesaikan persengketaan antara pengikut Adam Sedgwick dan Roderick Murchison yang masing-masing mengelompokkan lapisan batuan yang sama di Wales utara masuk dalam periode Kambrium dan Silur. Lapworth mengamati bahwa fosil fauna pada strata yang dipersengketakan ini berbeda dengan fauna pada periode Kambrium maupun Silur sehingga seharusnya memiliki periode tersendiri. Lapworth mengamati bahwa fosil fauna pada strata yang dipersengketakan ini berbeda dengan fauna pada periode Kambrium maupun Silur sehingga seharusnya memiliki periode tersendiri.

Zaman ini merupakan zaman perkembangan hewan invertebrate dan pemunculan invertebrate lain seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid (Lilia Laut), dan Bryozoa. Koral dan Alga yang berkembang membentuk karang laut, Graptolit dan Trilobit melimpah sedangkan Ekinodermata Brakiopoda mulai menyebar. Pada zaman ini juga mulai muncul vertebrata dari jenis ikan tanpa rahang.

 

 

 

4.4 Silur

 

 

Silur adalah periode pada skala waktu geologi yang berlangsung mulai akhir periode Ordovisium, sekitar 443,7 ± 1,5 juta tahun lalu, hingga awal periode Devon, sekitar 416,0 ± 2,8 juta tahun yang lalu. Seperti periode geologi lainnya, lapisan batuan yang menentukan awal dan akhir periode ini teridentifikasi dengan baik, tapi tanggal tepatnya memiliki ketidakpastian sebesar 5-10 juta tahun. Awal Silur ditentukan pada suatu peristiwa kepunahan besar (peristiwa kepunahan Ordovisium-Silur) sewaktu 60% spesies laut musnah. Pada zaman ini mulai terjadi peralihan kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan darat mulai muncul untuk pertama kalinya termasuk Pteridofita (tumbuhan paku), sedangkan di dalam laut kalajengking raksasa (Eurypterid) dan ikan berahang, serta ikan yang berperisai tulang sebagai pelidung.

Ketika binatang dan tumbuhan sudah menetap di daratan, mereka berkontribusi terhadap proses perubahan bumi secara fisik dan kimiawi, namun hidup di daratan membutuhkan strategi yang sama sekali berbeda dengan di lautan, seperti mencari nutrisi dan air, menghindari kekeringan, membawa keluar perubahan gas, dan reproduksi. Tanaman darat disebut vaskular, dinamakan demikian karena mereka menggunakan sistem tabung dalam sirkulasi air dan nutrisi—muncul sekitar 425 juta tahun yang lalu. Kebanyakan tumbuh hanya beberapa sentimeter namun cukup tinggi untuk mencapai langit dan menangkap cahaya matahari dan melepaskan spora reproduksi ke angin. Dengan sistem akar yang lebih dalam dari tanaman awal (rhizoid) serta stem vertikal yang kokoh, mereka sekarang sudah memunyai perlengkapan untuk mengolonisasi permukaan bumi. Contoh untuk sebuah tanaman vaskular sederhana adalah Cooksonia.

 

 

4.5 Devon

 

 

Devon adalah periode pada skala waktu geologi yang termasuk dalam era Paleozoikum dan berlangsung antara 416 ± 2,8 hingga 359,2 ± 2,5 juta tahun yang lalu. Namanya berasal dari Devon, Inggris, tempat pertama kalinya batuan Exmor yang berasal dari periode ini dipelajari. Pada masa Devonian, antropoda dan vertebrata awal melanjutkan kolonisasi di daratan. Binatang-binatang ini memiliki problem yang sama dengan tanaman ketika pertama kali berkolonisasi di daratan, seperti mengurangi kehilangan air dan memaksimalkan penghirupan oksigen. Kemajuan paling evolusioner dari masalah ini tidak hanya memungkinkan binatang dapat menginvasi daratan, tapi juga menyebar ke seluruh benua.

Zaman Devon merupakan zaman perkembangan secara besar-besaran jenis ikan berahang dan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di lautan. Migrasi ke daratan terus berlanjut, hewan amfibi mulai berkembang dan beranjak ke daratan. Tumbuhan darat semakin umum dan mulai muncul serangga untuk pertama kalinya. Semasa periode Devon, ikan pertama kali berevolusi dan memiliki kaki serta mulai berjalan di darat sebagai tetrapoda sekitar 365 juta tahun yang lalu.Tumbuhan berbiji pertama tersebar di daratan kering dan membentuk hutan yang luas. Di laut, hiu primitif berkembang lebih banyak dibanding periode Silur dan Ordovisium akhir. Ikan bersirip-cuping (lobe-finned, Sarcopterygii), ikan bertulang (bony fish, Osteichthyes) serta moluska amonite muncul untuk pertama kalinya. Trilobit, brachiopoda mirip moluska, dan terumbu karang besar juga masih sering ditemukan. Kepunahan Devon Akhir sangat mempengaruhi kehidupan laut.

Selama periode Devonian, bumi saat itu terdiri dari tiga benua utama besar: Amerika Utara dan Eropa tergabung menjadi satu terletak di dekat daerah equator di mana pada saat ini sebagian besar daratan ini tenggelam di dasar laut. Di sebelah utara terhampar sebagian dari Siberia modern. Dan sebuah gabungan benua Amerika Selatan, Afrika, Antartika, India dan Australia, yang lebih dikenal dengan Daratan Gondwana, mendominasi sebelah selatan belahan bumi.

 

 

4.6  Karbon

 

 

 

Karbon adalah suatu periode dalam skala waktu geologi yang berlangsung sejak akhir periode Devon sekitar 359,2 ± 2,5 juta tahun yang lalu hingga awal periode Perm sekitar 299,0 ± 0,8 juta tahun yang lalu. Seperti halnya periode geologi yang lebih tua lainnya, lapisan batuan yang menentukan awal dan akhir periode ini teridentifikasi dengan baik, tapi tanggal tepatnya memiliki ketidakpastian sekitar 5-10 juta tahun. Nama “karbon” diberikan karena adanya lapisan tebal kapur pada periode ini yang ditemukan di Eropa Barat. Pada masa Karboniferus, benua-benua bergabung membentuk kelompok-kelompok kecil daratan luas dengan jembatan-jembatan darat dari Eropa ke Amerika Utara, dan dari Afrika ke Amerika Selatan, Antartika, dan Australia. Tabrakan antarbenua menghasilkan sabuk Pegunungan Appalachian di sebelah timur Amerika Utara dan Pegunungan Hercynian di Inggris. Tumbukan lebih lanjut antara Siberia dan Eropa Timur membentuk Pegunungan Ural. Dua pertiga masa awal periode ini disebut subperiode Mississippian dan sisanya disebut subperiode Pennsylvanian. Pohon-pohon konifer muncul pada periode yang penting ini.

Zaman ini merupakan zaman perkembangan amfibi dan tumbuhan hutan. Reptilia dan serangga raksasa muncul pertama kali. Pohon pertama yang muncul adalah jamur klab, tumbuhan fern paku ekor kuda yang tumbuh di rawa-rawa. Saat itu benua-benua mulai menyatu membentuk satu masa daratan yang sangat luas disebut Pangea. Bumi mulai mengalami perubahan lingkungan serta berbagai bentuk kehidupannya. Iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran rawa-rawa yang terisi pepohonan dan sekarang tersimpan sebagai batubara. Pada masa ini, kondisi sangat mendukung pembentukan awal batu-bara (karbon), perkembangan biologis, geologis, dan iklim bumi. Salah satu dari penemuan evolusioner terbesar dari periode Karboniferus adalah amniotic egg di mana hal ini membuat reptil-reptil awal dari habitat air dan mengolonisasi daratan. Amniotic egg membuat leluhur burung, mamalia, dan reptil untuk bereproduksi di daratan dengan jalan mencegah embrio kekeringan dengan adanya cangkang, sehingga pada masa ini telur dapat disimpan jauh dari air.

 

 

4.7  Perm

 

 

Perm atau permian adalah periode dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 299,0 ± 0,8 hingga 251,0 ± 0,4 juta tahun yang lalu. Periode ini merupakan periode terakhir dalam era Paleozoikum. Perm dibagi menjadi tiga kala yaitu Lopongian, Guadalupian, dan Cisuralian. Pada periode Permian, benua-benua bergerak lebih mendekat dibandingkan masa Karboniferus, di mana bagian utara dan bagian selatan superbenua Laurasia dan Gondwana mulai menyatu dan membentuk sebuah benua mahaluas yang disebut Pangaea. Periode Permian merupakan periode final dari masa Paleozoikum dan diberi nama sesuai nama sebuah provinsi, Perm, di Rusia, tempat di mana batu pada periode ini dipelajari. Pada zaman ini perkembangan reptilia yang mirip mamalia mulai meningkat dan munculnya serangga modern, begitu juga tumbuhan Konifer dan Ginkgoc primitive. Zaman ini diakhiri dengan kepunahan massal.

Lingkungan geografis periode Permian mencakup area luas daratan dan lautan. Percobaan yang dilakukan memberikan kesimpulan bahwa kemungkinan besar daerah bagian dalam daratan beriklim kering, dengan iklim yang sangat fluktuatif, karena kurangnya daerah berair di daerah ini, dan hanya sebagian daerah dari superbenua ini yang menerima curahan air hujan dalam setiap tahunnya. Daerah lautan pada masa ini sendiri masih sedikit yang diketahui seperti apa. Di bagian selatan superbenua tersebut terdapat daerah gletser yang luas, terbukti dari pengecilan/pengurusan batu glasial dari tempat-tempat yang sekarang disebut Afrika, Amerika Selatan, Antartika, dan tanah hasil penggerusan angin mengindikasikan iklim yang sangat kering. Namun, ada indikasi pada masa ini iklim di bumi berubah pada masa ini, daerah es berkurang ketika bagian dalam benua menjadi semakin kering.

Perbedaan antara masa Paleozoikum dan Mesozoikum terjadi pada periode akhir Permian yang ditandai dengan kepunahan besar-besaran yang pernah tercatat di bumi. Hal tersebut memengaruhi banyak kelompok binatang di banyak lingkungan dan ekosistem. Namun yang paling terpengaruh dari kepunahan massal tersebut dirasakan oleh komunitas laut yang menyebabkan kepunahan sampai 90-95% dari spesies laut. Di daratan kepunahan membuka jalan bagi bentuk lain untuk mendominasi, dan membawa ke dalam masa yang dikenal sebagai “Masa Dinosaurus”. Meski sebab dari kepunahan masal pada periode Permian masih diperdebatkan, beberapa kemungkinan diformulasikan untuk menjelaskan tahapan kejadian kepunahan. Peng-es-an, perubahan formasi Pangaea, dan aktivitas gunung berapi merupakan beberapa teori di samping kemungkinan teori dari luar angkasa, yaitu tumbukan meteor dan asteroid ke bumi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

MESOZOIKUM

 

 

 

5.1 Pengertian Mesozoikum

 

 

Mesozoikum berasal dari bahasa Yunani: μεσο, meso, “antara” dan ζωον, zoon, “hewan” atau berarti “hewan pertengahan”) adalah salah satu dari tiga era geologi pada eon Fanerozoikum. Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung kurang lebih selama 180 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu.

Menurut pendapat para ahli, mesozoikum dapat diartikan sebagain berikut :

  1. M.K Tadjudin : Mesozoa / Mesozoikum adalah suatu masa yang dikaitkan dengan  umur bumi. Masa ini berlangsung antara 205 – 135 juta tahun yang lalu. Secara harfiah mesozoikum berarti “umur pertengahan”. Masa ini disebut sebagai zaman “Gymnospermae” karena banyak dijumpai tumbuhan gymnospermae yang hidup pada masa ini.
  2. Teuku Jacob : Masa mesozoikum berlangsung pada 225 – 65 juta tahun yang lalu. Masa ini terbagi menjadi zaman Trias, Jura, Creta. Masa ini disebut sebagai zaman “Gemilang Reptilia”. Mamalia, Aves, dan ikan mulai berkembang di masa ini, terutama ikan bertulang sejati (osteichthyes)
  3. Dermawan Sumardi : Masa ini berlangsung pada 225 – 70 juta tahun yang lalu. Peran invertebrata mulai tergantikan oleh reptile. Pada masa itu laut banyak menggenangi daratan.

Era inidibagimenjaditigaperiode: Trias, Jura, danKapur. Pembagianwaktumenjadi era inidiawalioleh Giovanni Arduinopadaabad ke-18, walaupunnamaasli yang diberikannyauntukMesozoikumadalahSekunder (menjadikan era modern menjadiTersier). Era yang berlangsungantaraPaleozoikumdanKenozoikuminisering pula disebutZamanKehidupanPertengahanatauZamanDinosaurus / reptil, mengikutinama fauna yang dominanpadamasaitu. Mesozoikumditandaidenganaktivitastektonik, iklim, danevolusi.Benua-benua secara perlahan mengalami pergeseran dari saling menyatu satu sama lain menjadi seperti keadaannya saat ini. Pergeseran ini menimbulkan spesiasi dan berbagai perkembangan evolusi penting lainnya. Iklim hangat yang terjadi sepanjang periode juga memegang peranan penting bagi evolusi dan diversifikasi spesies hewan baru. Pada akhir zaman ini, dasar-dasar kehidupan modern terbentuk.

 

 

 

5.2 Zaman Trias (250-210 juta tahun lalu)

 

 

Nama Trias diusulkan oleh F. von Alberti, seorang ahli geologi berkebangsaan jerman. Nama Trias diambil dari perkembangan endapan Mesozoikum yang didapat di cekungan Jerman, yang kemudian dianggap sebagai wilayah tipe untuk Sistem Trias, walaupun singkapan yang relatif lengkap dan banyak mengandung fosil justru didapatkan di Amerika bagian barat, Amerika bagian timur dan Kanada.

Gastropoda dan Bivalvia meningkat jumlahnya, sementara amonit menjadi umum. Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertamakalinya selama zaman ini. Reptilia menyerupai mamalia pemakan daging yang disebut Cynodont mulai berkembang. Mamalia pertamapun mulai muncul saat ini. Dan ada banyak jenis reptilia yang hidup di air, termasuk penyu dan kura-kura. Tumbuhan sikada mirip palember kembang dan Konifer menyebar. Benua Pangea bergerak keutara dan gurun terbentuk. Lembaranes di bagian selatan mencair dan celah-celah mulai terbentuk di Pangea.

Sistem Trias terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Trias Bawah, Trias Tengah, Trias Atas. Adapun pengertian dari 3 bagian tersebut adalah :

  1. Trias Bawah :

Yang dikenal dengan nama setempat sebagai Buntsandsteinmerupakan seni sedimentasi yang terjadi di darat dan terdiri dari batu pasir, batu lempung, konglomerat dengan beberapa bagian terdapat sisipan endapan laguna. Warna seri sedimen tersebut dari merah cerah hingga lembayung.

  1. Trias Tengah :

Yang dikenal dengan nama setempat sebagai Muschelkamerupakan seni sedimentasi yang terjadi di laut yang mencapai ketebalan kurang lebih 200 m.

  1. Trias Atas :

Yang dikenal dengan nama setempat sebagai Keuper merupakan seni sedimen yang seluruhnya diendapkan di darat. Pada bagian alasnya terdiri dari dolomit dan gipsum yang merupakan endapan penguapan, yang diakhiri dengan batu pasir yang diendapkan di sungai dengan fosil tumbuh – tumbuhan yang menyerupai ekor kuda yang dikenal dengan nama setempat sebagai Schlifsandstein.

Perkembangan kehidupan pada zaman Trias menunjukkan banyak terjadi perubahan baik untuk jenis Fauna terutama untuk golongan Vertebrata maupun golongan Invertebrata. Golongan Invertebrata Pilum Brachiopoda dan Pilum Mollusca serta Pilum Arthropoda. Untuk Pilum Mollusca termasuk di antaranya dari Kelas Pelecypoda dan Kelas Cephalopoda sedang untuk Pilum Arthropoda khususnya yang termasuk Kelas Crustacea. Demikian pula untuk jenis flora menunjukan adanya perkembangan yang pesat. Untuk jenis Vertebrata khususnya yang termasuk Reptilia sudah mulai dikenalRutiodon (sebangsa Phytosaurus) yang mulai muncul semula hidup dalam lingkungan air kemudian mengadaptasikan diri hidup dalam lingkungan darat yang kemudian punah pada zaman ini.

Selain itu yang mulai muncul pada zaman ini pula antara lain yang termasuk dinosaurus ialah Anchiasaurus, Cynognathus, Thrinacodon, placerias gigas, Inchtyosurus yang berkembang pada Zaman Trias dan punah pula pada akhir Zaman Trias. Didasarkan atas fasiesnya Sistem Trias di Indonesia dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

  1. Indonesia bagian barat : dengan macam fasies bermula dari fasies paralas, volkanik, laut, terutama berkembang sebagai batu gamping. Perkembanganya meliputi beberapa bagian dari Sumatra, Kalimantan (serta Malaya) dan pulau – pulau kecil di antara ketiga daerah tersebut.
  2. Indonesia bagian timur : dengan macam fasies seperti perkembangan di Indonesia bagian barat, hanya di tempat ini tidak dijumpai fasies volkanik, terutama berkembang sebagai batu gamping. Perkembanganya meliputi Sulawesi timur dan tenggara, pulau – pulau kecil di kepulauan Nusa Tenggara antara lain Pulau Roti, Pulau Timor, Pulau Leti, Pulau Tanimbar, Pulau Kei, Pulau Seram, Pulau Buru dan Pulau Buton.

Di Indonesia bagian timur pada zaman Trias terjadi peristiwa genang laut di bagian bawah umumnya terdiri dari batuan klastik yang berbutir kasar antara lain breksi, konglomerat yang kemudian diikuti dengan batu pasir, serpih yang mengandung bitumina yang kemudian diakhiri dengan napai dan batu gamping.

Dari Kesamaan Fasies batuan Trias di pulau – pulau Indonesia timur dapat ditarik kesimpulan bahwa pulau – pulau tersebut setidak – tidaknya pada Zaman Trias Atas termasuk dalam satu lingkungan sedientasi yang selalu mengalami penurunan atau dikatakan merupakan daerah pelamparan Geosinklin Banda. Geosinklin ini memanjang ke arah barat daya yang kemudian bersambung dengan Geosinklin Westralia sedang kearah barat bersambung dengan Geosinklin danau.

 

 

 

5.3 Jaman Jura (210-140 juta tahun lalu)

 

 

Pada zaman ini, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyo saurus berburu di dalam lautan dan Pterosaurus merajai angkasa. Banyak dinosaurus tumbuh dalam ukuran yang luar biasa. Burung sejati pertama (Archeopterya) berevolusi dan banyak jenis buaya berkembang. Tumbuhan Konifer menjadi umum, sementara Bennefit dan Sequola melimpah pada waktu ini. Pangea terpecah dimana Amerika Utara memisahkan diri dari Afrika sedangkan Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan Australia.

Zaman Jura berlangsung sejak 208 – 145 juta tahun yang lalu. Nama Jura pertama kali dipakai pada tahun 1799 oleh A. von. Humboldt seorang ahli geologi berkebangsaan Jerman. Penelitian secara intensif pada saat itu dilakukan di Inggris, walupun demikian maka nama sistem ini diambilkan dari nama Pegunungan Yura yang membentang dari Perancis sampai Swiss. Tempat inilah yang kemudian digunakan sebagai daerah tipe untuk sistem Yura.

Endapan Jura baik yang terjadi di laut mupun yang di darat banyak mengandung fosil. Untuk golongan Invertebrata diwakili oleh Pilum Coelenterata, Porifera, Echinodermata dan Mollusca.

Brontosaurus merupakan salah satu anggota dari Dinosaurus yang terbesar yang hidup dan pernah dijumpai dalam bentuk fosil di Amerika dan berkembang baik hingga zaman Jura. Dari kerangka yang telah berhasil direkontruksi jenis Brontosaurus mempunyai tubuh hingga 18 feet dengan panjang hingga 67 feet. Archaeopteryx meruapakan burung yang pertama kali dikenal dalam sejarah. Burung ini memiliki ukuran sebesar burung gagak, fosilnya dijumpai pada batu gamping litographhi di daerah Solenhoven, Bavaria. Ichtyosaurusmerupakan reptile laut yang memiliki panjang tubuh 10 feet.

Endapan jura didapatkan baik di Indonesia barat maupun Indonesia Timur. Di Indonesia barat tidak banyak dijumpai endapan Jura. Adakemungkinan bahwa sebagian besar daerah Indonesia barat pada zaman itu merupakan daratan sehingga tidak dimungkinkan terbentuknya endapan. Di Indonesia timur perkembangan endapan Jura relatif baik. Endapannya berkembang sebagai batu gamping dengan fosil Arnioceras.

Dengan memperhatikan tempat – tempat terdapatnya endapan Jura maka dapat diamnbil kesimpulan bahwa terdapat genang laut selama zaman Jura sehingga mengakibatkan seolah – olah Indonesia terbagi menjadi 3 bagian oleh palung Anambas, geosnklin Banda dan geosinklin Papua.

 

 

 

5.4 Zaman Kapur (140-65 juta tahun lalu)

 

 

Banyak dinosaurus raksasa dan reptilia terbang hidup pada zaman ini. Mamalia berari-ari muncul pertamakalinya. Pada akhir zaman ini Dinosaurus, Ichtiyosaurus, Pterosaurus, Plesiosaurus, Amonit dan Belemnit punah. Mamalia dan tumbuhan berbunga mulai berkembang menjadi banyak bentuk yang berlainan. Iklim sedang mulai muncul. India terlepas jauh dari Afrika menuju Asia. Jaman ini adalah jaman akhir dari kehidupan biantang-binatang raksasa.

Zaman kapur berlangsung semenjak 145-65 juta tahun yang lalu. Zaman kapur dicirikan oleh suatu daur pengendapan “susut laut – genang laut – susut laut”. Selama zaman kapur berkembang bermacam – macam kehidupan. Beberapa diantaranya merupakan kelanjutan dari zaman Jura disamping terdapat pengembangan kehidupan yang baru. Diantara jenis – jens yang mencirikan untuk jaman Kapur antara lain anggota dari Pilum Protozoa khususnya dari ordo Foraminifera, Pilum Coelenterata, Pilum Mollusca, dan pilum Arthropoda. Disamping itu terdapat pula perkembangan dari golongan vertebrata maupun jenis flora.

Tyrannosaurus Rex merupakan jenis dinosaurus pemangsa terbesar yang hidup pada jaman kapur, dinosaurus ini dapat berkembang dengan panjang tubuh mencapai 45 feet dan tinggi 20 feet. Elasmosaurus merupakan golongan mamalia yang hidup di laut dan memiliki panjang antara 40 sampai 50 feet. Pterodon merupakan golongan reptil terbang yang memiliki bentang sayap 23 sampai 25 feet. Fosil dari Elasmosaurus dan Pterodon ditemukan di daerah Niobrara, Kansas, Amerika pada batu gamping.

Di Indonesia terdapat endapan-endapan yang jelas termasuk zaman kapur hanya terdapat di berbagai tempat yang terpencar. Di Indonesia bagian barat system kapur dicirikan oleh endapan klastik dengan fosil Orbitolina, meskipun fosil ini juga dijumpai pada sistem kapur yang ada di Indonesiabagian timur. Di Sumatera, di Bukit Garba, dimana di bagian bawah terdiri dari napal tufan, tufa, pilit dan marmer. Bagian atasnya terdiri dari batu rijang yang mengandung fosil Radiolaria.

Di jawa endapan yang berumur kapur telah diketahui dalam bentuk lensa-lensa batu gamping yang mengandung fosil Orbitolina terapit diantara lempung dan serpih. Endapan tersebut dijumpai di Lok Ulo, Karangsambung, selatan Banjarnegara, Jawa Tengah. Batu guling dengan fosil Orbitolina telah dijumpai dalam konglomerat Eose di Pegunungan Jiwo, selatan Klaten. Di tempat ini endapan kapur bertalian erat dengan batuan metamorf dan mungkin selaan-selaan di dalamnya.

Apabila ditinjau secara menyeluruh, karena genang laut yang terjadi pada Cenomanian mengakibatkan lautan di Indonesia menjadi lebih luas daripada zaman Jura. Daratan Philipina yang masih menjadi satu dengan daratan Papua pada waktu zaman Jura, sekarang .Sekarang oleh genang laut tersebut terbagi menjadi 2 daratan, yaitu daratan Philipina dan daratan Papua. Di bagian tenggara Indonesia, lautan menggenangi daratan bagian utara daratan Australia sehingga terjadi teluk-teluk. Pada waktu yang bersamaan maka Geosinklin Tasmania meluas ke arah utara jika dibandingkan dengan luas wilayahnya di zaman Jura.

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

SENOZOIKUM

 

 

 

6.1 Pengertian Senozoikum

 

 

Senozoikum tau disebut juga Kenozoikum berasal dari bahasa Yunani: καινός, kainos, “baru”, dan ζωή, zoe, “kehidupan”, atau berarti “kehidupan baru” adalah era terakhir dari tiga era klasik geologi. Era ini berlangsung selama 65,5 juta tahun sampai sekarang, setelah peristiwa kepunahan massal Kapur-Tersier pada akhir periode kapur yang menandai punahnya dinosaurus tanpa bulu dan berakhirnya era Mesozoikum.

Kenozoikum dibagi menjadi dua periode; Paleogen dan Neogen, yang dibagi lagi menjadi beberapa kala (epoch). Paeogen terdiri dari Paleosen, Eosen, dan Oligosen, sedangkan Neogen terdiri dari Miosen, Pliosen, Pleistosen, dan Holosen, yang berlangsung hingga saat ini. Kenozoikum dapat pula dibagi menjadi Tersier (Paleosen dan Pliosen) dan Kuarter (Pleistosen dan Holosen), walaupun kebanyakan ahli geologi saat ini tidak lagi menggunakan pembagian tersebut.

Skala waktu geologi : eon dan era
(dalam juta tahun)

 

 

A. Periode Paleogen

 

Paleogen adalah periode dalam skala waktu geologi yang merupakan bagian pertama dari era Kenozoikum dan berlangsung selama 42 juta tahun antara 65,5 ± 0,3 hingga 23,03 ± 0,05 juta tahun yang lalu. Periode ini terdiri dari kala Paleosen, Eosen, dan Oligosen, dan dilanjutkan oleh kala Miosen pada periode Neogen.

Paleogen merupakan saat pertama berkembangnya mamalia dari jumlah yang sedikit dan bentuk yang sederhana, hingga membengkak menjadi beragam jenis pada akhir kepunahan massal yang mengakhiri periode Kapur (era Mesozoikum) sebelumnya. Beberapa mamalia ini akan berevolusi menjadi bentuk yang lebih besar yang mendominasi daratan, dan ada pula yang berevolusi menjadi mampu hidup di lingkungan lautan, daratan khusus, dan bahkan di udara. Burung juga berkembang pesat pada periode ini menjadi kurang lebih bentuk modern yang dikenal saat ini. Cabang kehidupan lain di bumi bertahan relatif tidak berubah dibandingkan dengan perubahan yang dialami burung dan mamalia pada periode ini. Iklim menjadi lebih dingin sepanjang Paleogen dan batas laut menyurut di Amerika Utara di awal periode ini.

 

 

B. Paleosen

 

Platipus, salah satu jenis hewan modern yang mulai muncul pada kala Paleosen.

Paleosen, “awal fajar masa kini”, adalah kala yang berlangsung antara 65,5 ± 0,3 hingga 55,8 ± 0,2 juta tahun yang lalu. Paleosen merupakan kala pertama dari periodePaleogen di era modern Kenozoikum. Seperti halnya skala waktu geologi lainnya, stratum yang menunjukkan awal dan akhir kala ini terdefinisi dengan jelas, tapi waktu pasti akhirnya tidak terlalu jelas.

Paleosen dimulai langsung setelah kepunahan massal pada akhir periode Kapur yang dikenal dengan nama batas K-T (Kapur – Tersier), yang menandai punahnya dinosaurus. Kepunahan ini menyebabkan timbulnya kekosongan niche ekologi di bumi dan karenanya namanya diberikan. “Paleosen” berasal dari bahasa Yunani yaitu merujuk kepada fauna “(lebih) tua” (παλαιός, palaios) dan “baru” (καινός, kainos) yang muncul pada kala ini, sebelum munculnya mamalia modern pada kala Eosen.

 

 

 

 

C. Eosen

 

 

Nama “Eosen” berasal dari bahasa Yunani eos (fajar) and ceno (baru) dan merujuk pada “kebangkitan” mamalia modern (“baru”) yang muncul pada kala ini. Eosen adalah suatu kala pada skala waktu geologi yang berlangsung 55,8 ± 0,2 hingga 33,9 ± 0,1 juta tahun yang lalu yang merupakan kala kedua pada periodePaleogen di eraKenozoikum. Kala ini berlangsung mulai akhir kala Paleosen hingga awal Oligosen. Awal Eosen ditandai dengan kemunculan mamalia modern pertama. Akhir Eosen adalah suatu kepunahan massal yang disebut Grande Coupure, yang mungkin berhubungan dengan satu atau lebih bolide (meteor besar) yang ditemukan di Siberia dan Chesapeake Bay.

Seperti halnya periode geologi lain, stratum yang menentukan awal dan akhir kala ini terdefinisi dengan jelas, walaupun waktu tepatnya kurang dapat dipastikan.

 

Mesonyx, ungulatakarnivor yang berkembang pada kala Eosen.

 

 

 

 

D. Oligosen

 

 

Oligosen adalah suatu kala pada skala waktu geologi yang berlangsung dari sekitar 34 hingga 23 juta tahun yang lalu. Seperti periode geologi yang lebih tua lainnya, lapisan batuan yang membedakan periode ini terdefinisi dengan jelas, tapi waktu awal dan akhirnya agak kurang dapat dipastikan. Namanya berasal dari bahasa Yunani oligos (“beberapa”) dan ceno (“baru”), dan merujuk pada sedikitnya penambahan mamalia modern setelah peledakan evolusi pada kala Eosen. Oligosen melanjutkan kala Eosen dan diikuti oleh Miosen dan merupakan kala ketiga dan terakhir pada periodePaleogen.

Awal Oligosen ditandai dengan kepunahan massal yang mungkin berhubungan dengan tumbukan objek luar angkasa yang ditemukan di Siberia dan dekat Chesapeake Bay. Batas antara Oligosen dan Miosen tidak dapat ditentukan secara mudah dengan suatu peristiwa, melainkan merupakan batas yang semu antara Oligosen yang lebih hangat dengan Miosen yang relatif lebih dingin.

Oligosen sering dianggap merupakan masa transisi yang penting, suatu penghubung antara “[the] archaic world of the tropical Eocene and the more modern-looking ecosystems of the Miocene. (Haines)”.

 

 

 

Mesohippus, suatu jenis mamalia yang hidup pada kala Oligosen.

 

E. Periode Neogen

 

 

Neogen adalah suatu periode bagian dari eraKenozoikum pada skala waktu geologi yang dimulai sejak 23.03 ± 0.05 juta tahun yang lalu, melanjutkan periode Paleogen. Berdasarkan proposal terakhir dari International Commission on Stratigraphy, Neogen terdiri dari kalaMiosen, Pliosen, Pleistosen, dan Holosen dan berlangsung hingga saat ini. Sistem Neogen (formal) dan Sistem Tersier (nonformal) merupakan istilah untuk batuan yang terbentuk pada periode ini.

Neogen berlangsung kurang lebih selama 23 juta tahun. Selama periode ini, mamalia dan burung berevolusi dengan pesat; genus Homo juga mulai muncul pada periode ini. Bentuk kehidupan lain relatif tidak berubah. Terjadi beberapa gerakan benua, dengan peristiwa yang paling penting adalah terhubungnya Amerika Utara dan Selatan pada akhir Pliosen. Iklim mendingin sepanjang periode ini yang memuncak pada glasiasi kontinental pada sub-era Kuarter (atau kadang disebut juga periode pada beberapa skala waktu).

F. Periode Miosen

Miosen adalah suatu kala pada skala waktu geologi yang berlangsung antara 23,03 hingga 5,332 juta tahun yang lalu. Seperti halnya periode geologi yang lebih tua lainnya, lapisan batuan yang membedakan awal dan akhir kala ini dapat teridentifikasi, tapi waktu tepat awal dan akhirnya tidak dapat terlalu dipastikan. Miosen dinamai oleh Sir Charles Lyell dan berasal dari kata bahasa Yunani μείων (meioon, “kurang”) dan καινός (kainos, “baru”) dan kurang lebih merujuk pada “kurang baru” karena hanya memiliki 18% (kurang dari Pliosen) invertebrata laut modern. Miosen mengikuti Oligosen dan diikuti oleh Pliosen dan merupakan kala pertama pada periodeNeogen.

 

 

G. Periode Pliosen

 

 

Pliosen adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung 5,332 hingga 1,806 juta tahun yang lalu. Kala ini merupakan kala kedua pada periodeNeogen di eraKenozoikum. Pliosen berlangsung setelah Miosen dan diikuti oleh kala Pleistosen.

Namanya diberikan oleh Sir Charles Lyell dan berasal dari kata bahasa Yunani πλεῖον (pleion, “lebih”) dan καινός (kainos, “baru”) dan kurang lebih berarti “kelanjutan dari sekarang”, merujuk pada fauna laut moluska yang relatif modern yang hidup pada zaman ini.

Seperti periode geologi lain yang lebih tua, stratum geologi yang menentukan awal dan akhir teridentifikasi, tapi waktu pasti awal dan akhir kala ini agak tak pasti. Batas yang menentukan kemunculan Pliosen tidak ditentukan oleh suatu peristiwa tertentu melainkan hanya berupa batas semu antara Miosen yang lebih hangat dan Pliosen yang relatif lebih sejuk. Batas akhir awalnya ditentukan pada awal glasiasi Pleistosen, tapi belakangan dianggap terlalu lama. Banyak geologis berpendapat bahwa pembagian yang lebih luas antara Paleogen dan Neogen lebih berguna.

Narciso Benítez, seorang astronom dari Universitas Johns Hopkins, dan timnya mengajukan teori bahwa suatu supernova mungkin merupakan penyebab kepunahan hewan laut yang menandai batas Pliosen-Pleistosen, dengan menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada lapisan ozon.

 

H. Pleistosen

 

 

Pleistosen adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu. Namanya berasal dari bahasa Yunani πλεῖστος (pleistos, “paling”) dan καινός (kainos, “baru”). Pleistosen mengikuti Pliosen dan diikuti oleh Holosen dan merupakan kala ketiga pada periodeNeogen. Akhir Pleistosen berhubungan dengan akhir Zaman Paleolitikum yang dikenal dalam arkeologi.

Jaman Pleistosen berlangsung sekitar 600.000 tahun lalu. Kondisi Alam Pada Jaman Pleistosen. Pada tahun 1839, charles lyell memberikan nama pleistosen untuk jaman geologi yang mengikuti jaman pliosen. Jaman ini dimulai dari awal kuarter hingga kira-kira 11.000 tahun yang lalu. Jaman pleitosen didefinisikan dengan dasar bahwa lapisan sedimen mengandung90% hingga 100% dari fauna yang masih hidup.Gunung tengah atlantik masih terus mekar dengan kecepatan 2 cm pertahun pada jama ini. Karena pendeknya waktu pleistosen, tektonik yang terjadi belum banyak merubah morfologi dan struktur bumi. Keadaan alam masih labil karena silih bergantinya 2 zaman, Zaman Glasial dan Zaman Interglasia

 

a. Zaman Glasial

 

Zaman Glasial adalah meluasnya lapisan es kutub utara sehingga eropa dan Amerika bagian utara tertutup es. Hal ini mengakibatkan munculnya Dataran Sunda dan Dataran Dahul di Indonesia. Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Malysia Barat bergabung menjadi satu dengan Benua Asia.

 

b. Zaman Interglasial

 

Zaman Interglasial adalah zaman mencairnya lapisan es di kutub utara. Pada Zaman ini, temperature meningkat sehingga permukaan air laut naik dan terjadi banjir yang menyebabkan daratan terpisah-pisah.

Pada zaman pleistosen, terjadi perpindahan manusia purba dari wilayah Asia ke Indonesia. Zaman PListosen dapat dibagi menjadi 3 yaitu : Pleistosen Awal, Pleistosen Tengah, dan Pleistosen Akhir.

  • Pleistosen Awal

Zaman ini juga dikenal sebagai Pleistosen Bawah (Lapisan dan Fauna Jetis). Pleistosen Bawah ialah subdivisi awal atau terendah dari periode Kwarter. Di lapisan inilah Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecanthropus Modjokertensis dan Robustus ditemukan. Pleistosen Awal terdiri dari tahap Gelasius dan Calabria.

  • Pleistosen Tengah

Zaman ini juga dikenal sebagai Lapisan atau Fauna Trinil. Pleistosen Tengah secara lebih khusus disebut sebagai tahap Ionia. Zaman Pleistosen Tengah ialah subdivisi peralihan dari Lapisan / Fauna Jetis ke Lapisan Ngandong pada periode Kwarter.Di lapisan inilah Pithecanthropus Erectus ditemukan. Para ilmuan menghubungkan makhluk ini sebagai missing link, atau makhluk peralihan dari kera ke manusia.

  • Pleistosen Akhir

Zaman ini juga dikenal sebagai Pleistosen Atas ( Lapisan atau Fauna Ngandong ). Secara lebih mengkhusus, Pleistosen Akhir ini disebut sebagai tahap Tarantian). Dilapisan ini Homo Sapiens, seperti : Homo Soloensis dan Homo Wajakensis hidup, tumbuh dan berkembang.

Zaman ini merupakan subdivisi akhir atau teratas dari periode Kwarter.Pada zaman ini, banyak hewan-hewan besar yang mengalami kepunahan. Demikianlah tahap akhir dari periode Kwarter. Selanjutnya Tahap ini diikuti oleh Tahap Holosen atau Zaman Alluvium. Jenis-jenis manusia :

Lapisan Jenis Manusia Purba
Pleistosin bawah (Lapisan fauna Jetis) Pithecantropus Mojokertensis

Meganthropus Palaeojavanicus

Pleistosin tengah (Lapisan fauna Trinil) Pithecantropus Erectus
Pleistosin awal/atas (Lapisan fauna Ngandong) Pithecantropus Soloensis

Homo Wajakensis

 

 

 

 

 

 

 

1. Pithecanthropus Mojokertensis

 

 

Manusia purba ini ditemukan pertama kali oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 di daerah lembah kali Solo. Koenigswald menemukan fosil tengkorak kanak-kanak di dekat Mojokerto. Terutama dari tempat – tempat giginya dapat diperkirakan bahwa fosil itu umurnya belum melewati 5 tahun, dan merupakan tengkorak dari anak Pithecanthropus. Diperkirakan manusia purba ini hidup di zaman Pleistosen bawah.

 

 

2. Meganthropus Paleojavanicus

 

 

Meganthropus Paleojavanicus diperkirakan hidup pada dua juta tahun yang lalu. Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki tulang rahang yang kuat
  2. Tidak memiliki dagu
  3. Menunjukkan ciri-ciri manusia tetapi lebih mendekati kera.
  4. Berbadan besar dan tegap

3. Pithecanthropus Erectus

Fosil manusia jenis Pithecanthropus erectus ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahuan 1890 di Trinil, lembah sungai Bengawan Solo berasal dari pleistosen tengah. Ciri-ciri Pithecanthropus erectus :

  • Tinggi badan sekitar 165 – 180 cm
  • Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc
  • Bentuk tubuh & anggota badan tegap, tetapi tidak setegap meganthropus
  • Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
  • Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
  • Bentuk tonjolan kening tebal melintang di dahi dari sisi ke sisi
  • Bentuk hidung tebal
  • Bagian belakang kepala tampak menonjol menyerupai wanita berkonde
  • Muka menonjol ke depan, dahi miring ke belakang

4. Pithecanthropus soloensis

 

Pithecanthropus soloensis merupakan pithecanthropus yang bertahan hidup samapi akhir pleistiosen tengah. Fosil pertama ditemukan di Ngandong, di tepi Sungai Bengawan Solo padasekitar tahun 1931-1934. Para peneliti Pithcanthropus soloensis di anataranya Von Koenigswald, Oppernoorth, dan Ter Haar.

 

 

5. Homo Wajakenesis

 

 

Fosil ini pertama kali ditemukan di daerah Campurdarat (Wajak), Tulung Agung (Jawa Timur) oleh Van Rietschoten pada tahun 1889. Fosil ini merupakan fosil manusia pertama yang dilaporkan dari Indonesia. Temuan ini diselidiki pertama kali oleh Eugene Dubois. Ia menyimpulkan bahwa kerangka yang ditelitinya termasuk dalam bangsa Austroloid, bernenek moyang Homo Soloensis dan nantinya menurun langsung bangsa-bangsa asli di Australia itu. Tetapi berdasarkan penyelidikan yang dilakukan oleh Koenigswald, fosil ini termasuk dalam Homo Sapiens, dan berasal dari lapisan Pleistosen atas.

Diposkan oleh Nadya Gratia

 

 

BAB VII

PENUTUP

 

 

7.1 Kesimpulan

 

 

Dari makalah di atas dapat disimpulkan bahwa waktu geologi adalah skala waktu yang meliputi seluruh sejarah geologi bumi dari mulai terbentuknya hingga saat ini. Skala waktu geologi yang ditetapkan oleh International Union of Geological Sciences (IUGS) pada tahun 2004 membagi sejarah bumi ke dalam beberapa interval waktu yang berbeda-beda panjangnya dan terukur dalam satuan tahun kalender, terdapat 3 kurun yaitu Arkaikum, Proterozoikum dan Fanerozoikum. Kurun Arkaikum adalah kurun pertama, dimulai sekitar 3.8 milyar hingga 2.5 milyar tahun yang lalu. Kurun sebelum Arkaikum, dikenal sebagai Pra-Arkaikum, ditandai oleh pembentukan planet bumi. Kurun Proterozoikum dimulai sekitar 2.5 milyar tahun yang lalu hingga 542 juta tahun yang lalu. Kurun Arkaikum dan Proterozoikum juga disebut Pra-Kambrium.

Prasejarah atau nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman prasejarah dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di mana terdapat kehidupan di muka Bumi dimana manusia mulai hidup.

Paleozoikum berasal dari bahasa Yunani, yaitu palaio yang berarti tua dan zoion yang berarti hewan, maka zaman Paleozoikum bisa diartikan sebagai zaman kehidupan purba. Paleozoikum  adalah era geologi pertama dari tiga era pada eon Fanerozoikum, yang dimulai dari 542–251 juta tahun yang lalu.Pada zaman ini juga disebut sebagai zaman primer karena pada masa ini mulai ada tanda-tanda kehidupan dibumi. Benua-benua pertama kali stabil pada era ini.

Mesozoikum berasal dari bahasa Yunani: μεσο, meso, “antara” dan ζωον, zoon, “hewan” atau berarti “hewan pertengahan”) adalah salah satu dari tiga era geologi pada eon Fanerozoikum. Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung kurang lebih selama 180 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu.

Senozoikum atau disebut juga Kenozoikum berasal dari bahasa Yunani: καινός, kainos, “baru”, dan ζωή, zoe, “kehidupan”, atau berarti “kehidupan baru” adalah era terakhir dari tiga era klasik geologi. Era ini berlangsung selama 65,5 juta tahun sampai sekarang, setelah peristiwa kepunahan massal Kapur-Tersier pada akhir periode kapur yang menandai punahnya dinosaurus tanpa bulu dan berakhirnya era Mesozoikum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

http://yudi81.wordpress.com/2011/05/07/skala_waktu_geologi/

http://blog-pelajaransekolah.blogspot.com/2013/08/pengertian-zaman-praaksara.html

http://tarto8.wordpress.com/2007/11/02/peta-konsep-materi-pelajaran-kehidupan-manusia-pra-sejarah-di-indonesia/

http://billinakpgricikbar.blogspot.com/2012/09/pengertian-masa-pra-aksara-prasejarah.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Prasejarah

http://id.wikipedia.org/wiki/Paleozoikum

http://id.wikipedia.org/wiki/Kambrium

http://alfonsussimalango.blogspot.com/2011/03/paleozoikum.html

http://syajarra.blogspot.com/2009/11/mesozoikum.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Senozoikum

http://id.wikipedia.org/wiki/Paleogen

http://id.wikipedia.org/wiki/Paleosen

http://id.wikipedia.org/wiki/Eosen

http://id.wikipedia.org/wiki/Oligosen

http://id.wikipedia.org/wiki/Neogen

http://id.wikipedia.org/wiki/Pliosen

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s